Kata Kata Mutiara Gusdur Tidak Kosong Namun Penuh Makna

Berikut sudah kami siapkan Kata Kata Bijak Gusdur yang dapat kita baca kutiip untuk sekedar dijadikan motifasi bagi kita.

Kemajemukan harus bisa diterima, tanpa ada perbedaan.

Tida boleh ada lagi perbadaan kepada setiap warga negara Indonesia berdasarkan agama, bahasa ibu, kebudayaan, serta ideologi.

Kalau sekarang ini ada yang menjelekkan nama Islam, kita didik agara membawa nama islam yang damai.

Seolah-olah islam diwakili oleh mereka yang keras-keras itu. Enggak bener.

Guyonan CIA, di Indonesia sudah tidak ada teroris lagi, karena semua semua teroris sudah menjadi menteri.

Jadinya, kita menjadi bangsa yang jadi bahan tertawaan orang. Masak Timor Leste yang kayak itu saja bisa permainkan kita.

Kita ini celaka. 70 persen tanah air kita laut, tetapi garam saja impor. Kalau bodoh sih gak apa-apa, tapi kalau di sengaja kok bodoh. Saya tahu impor setiap satu ton dapat 10 dolar. Jadi, impor itu hanya menguntungkan yang impor.

Kita butuh Islam ramah bukan islam marah.

Dari sudut akidah, hak orang Islam memang lebih tinggi daripada penganut agama lain. Namun, Indonesia bukan negara Islam.

Menyesali nasib tidak akan mengubah keadaan. Terus berkarya dan bekerjalah yang membuat kita berharga.

Tidak penting apap pun agama atau sukumu, kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua orang, orang tidak pernah tanya apa agamamu.

Bukankah dengan demikian menjadi jelas bagi kita bahwa menerima perbedaan dan asal-muasal bukanlah tanda kelemahan, melainkan menunjukkan kekuatan.

Marilah kita bangun bangsa dan ita hindarkan pertikaian yang sering terjadi dalam sejarah. Inilah esensi tugas kesejarahan kita yang tidak boleh kita lupakan sama sekali.

Sejarah lama kita sebagai bangsa memang sangat menarik. Rasa tertarik itu timbul dari kenyataan bahwa yang di tulis sering tidak sama dengan yang terjadi. Dengan kata lain, sejarah masa lalu sering dijadikan sebagai alat legitimasi kekuasaan.

Mau tidak mau kita harus memilih antara dua versi sejarah. Versi perbedaan agamakah, atau versi pertentangan akibat ambisi-ambisi pribadi? Dari sinilah kita lalu terjebak oleh keharusan membaca sejarah lama dalam versi yang berbeda-beda. Ini adalah akibat langsung dari kesenangan bangsa kita atas lambang-lambang kesejarahan. Catatan sejarah hampir-hampir tidak dibuat, dengan demikian kita lalu harus meraba-raba masa lampau kita sendiri. Inilah yang seharusnya kita lakukan, bukan lalu sekedar menghafalkan tahun-tahun dan nama-nama dalam ‘pelajaran’ sejarah di sekolah-sekolah kita. Kita bukannya mengingat-ingat tahun kejadian, melainkan memahami sejarah sebagai sebuah proses.

Pertanyaan dasarnya adalah, sanggupkah kita sebagai bangsa mengembangkan sikap meninggikan kepentingan bersama itu dan mengalahkan kepentingan pribadi para pemimpin bangsa kita?.

Mistifikasi atau fakta sejarah memang terjadi dalam perjalanan panjang setiap bangsa. Tugas para sejarawan adalah memisahkan fakta sejarah dari mistifikasi, dan dengan demikian, memisahkan kenyataan sejarah dari legenda. Kegagalan seorang sejarawan untuk melakukan pemisahan itu, hanya akan berujung pada penafsiran yang salah atas sejarah. Karena itu, seringkali kita harus berhati-hati terhadap kecenderungan untuk mencari tema-tema besar dalam memahami sejarah masa lampau kita sendiri. Terutama dalam memisahkan mana yang faktual dan mana yang mitos dari “kebesaran” kerajaan-kerajaan masa lampau.

Saya tidak khawatir dengan dominasi minoritas. Itu lahir kerena kita yang sering merasa minder. Umat Islam – mungkin karena faktor masa lalu – sering dihantui rasa kekalahan dan kelemahan.

Keberhasilan seorang pemimpin diukur pada kemampuan mereka dalam menyejahterakan umat yang mereka pimpin.

Agama mengajarkan pesan-pesan damai dan ekstremis memutarbalikkannya.

Keragaman adalah keniscayaan akan hukum Tuhan atas alam ciptaan-Nya.

Kalau Anda tidak ingin dibatasi, janganlah Anda membatasi. Kita sendirilah yang harusnya tahu batas kita masing-masing.

Pemahaman apa pun yang berbeda apalagi bertentangan bisa menjadi bibit-bibit perpecahan dan persatuan bangsa.

Tidak ada TKI yang ilegal, yang ada adalah negara melakukan pembiaran-pembiaran terhadap tumpah darah bangsanya.

Guru spiritual saya adalah realitas. Dan guru realitas saya adalah spriritualitas.

Dalam hidup nyata dan dalam perjuangan yang tak mudah, kita bukan tokoh dalam dongeng dan mitos yang gagah berani dan penuh sifat kepahlawanan. Kita, yang bukan tokoh mitos, yang punya anak, istri dan keluarga mengenal rasa takut. Meskipun takut kita jalan terus, berani melompati pagar batas ketakutan tadi, mungkin disitu harga kita ditetapkan.

DPR kok seperti anak TK.

Gitu aja kok repot.

Kalau dulu saya mengatakan DPR TK (Taman Kanan-kanan), sekarang malah playgroup.

 

Dalam kutipan kalimat dan maksud dari perkataan beliau yang dijelaskan dengan bahasa sehari hari maka kita akan mengetahun bahwa celotehan beliau bukan kosong, namun sindiran secara halus, yang dimana sindiran tersebut memiliki arti yang dalam, sungguh luarbiasa kepandaian beliau.

Semoga artikel ini dapat menginspirasi para pembaca.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *