Kisah Inspirasi Sprinter Muda Indonesia

Lalu Muhammad Zohri hampir tidak pernah yang tahu nama pemuda, Sosok Lalu Muhammad Zohri ramai diperbincangkan belakangan ini. Yap, atlet lari Indonesia itu baru saja meraih medali emas dalam Kejuaraan Atletik Dunia U-20 di Finlandia pada Kamis (12/7/18).

Ada lagi cerita unik dan menyentuh hati dari Zohri. Di kampung halamannya di Dusun Karang Pangsor, Desa Pemenang, Kabupaten Lombok Utara Zohri dikenal punya hobi lari tanpa alas kaki. Biasanya Zohri berlatih di Pantai Pelabuhan Bangsal, Pemenang.

Bukan tanpa alasan, kehidupan Zohri sebagai seorang yatim piatu memang serba sederhana. Hal itu membuat Zohri nggak punya biaya untuk sekadar membeli sepasang sepatu latihan. Padahal sepatu adalah modal penting seorang atlet lari.

Dari cerita yang disampaikan oleh kakaknya, Baiq Fazilah, perjuangan Zohri untuk menjadi atlet nasional sangat berat.

Mengetahui kemenangan Lalu Muhammad Zohri di pentas internasional, Baiq Fazilah pun bersyukur.

“Setelah melihat videonya yang dikirim Zohri melalui WhatsApp, saya langsung menangis dan sujud syukur kepada Allah SWT,” kata Baiq Fazilah yang dilansir BolaSport.com dari Kompas.

Lebih lanjut, Baiq Fazilah mengatakan bahwa adiknya tersebut ialah sosok yang pendiam dan tidak pernah menuntut apapun.

Sebelum berangkat ke Jakarta untuk melanjutkan pertandingan ke Finlandia, Zohri sempat meminta uang pada kakaknya sebesar Rp 400 ribu untuk membeli sepatu. Oleh sang kakak, Zohri hanya diberi uang seadanya. Namun Zohri nggak patah semangat dan tetap berjuang

Pemuda berusia 18 tahun itu memiliki cita-cita yang mulia yakni membanggakan dan membuatkan sebuah rumah untuk keluarganya.

“Cita-citanya mau banggakan keluarga dan buatkan rumah,” tutur Baiq Fazilah.

Meski memiliki keterbatasan dan kekurangan, kehidupan seakan menyudutkannya ketika Ibu yang melahirkannya harus meninggal di tahun 2015. Mengalami kesedihan bukan berarti ia harus patah semangat, melainkan ia ingin memberikan pembuktian sebagai seseorang yang punya motivasi. Dan 2 tahun setelah kepergian ibunya, duka mendalam kembali dialaminya, ayahnya yang selalu mendampinginya harus pergi juga untuk selama-lamanya.

Berkat usaha kerasnya Muhammad Zohri mampu membuktikan menjadi Pemenang dan menjuarai cabang sprint 100 m dengan waktu tercepat yaitu 10,18 detik mengalahkan pelari asal amerika yang hanya selisih 0, 6 dan 0,7 detik yaitu Anthony Schwartz dan Eric Harrison.

Pencapaian Zohri merupakan sebuah sejarah baru di Indonesia pada cabang olahraga atletik Indonesia. Pada sebelumnya pada ajang kejuaraan dunia prestasi Indonesia hanya mampu mencapai finis kedelapan di babak penyisihan di tahun 1986 di ajang lari 100 meter. Pada ajang Kejuaraan Asia Atletik Junior 2018 di Jepang, Lalu Muhammad Zohri juga berhasil meraih medali emas untuk lari 100 meter dengan catatan waktu 10,27 detik.

Nah, siapa bilang kesederhanaan dan keterbatasan hanya menjadi penghalang untuk kita mengukir prestasi? Zohri sudah membuktikan kalau dalam keterbatasan pun dia bisa membanggakan keluarga bahkan Indonesia.