Kisah Inspirasi dari para Petani

Ancaman kerawanan pangan di masa depan dapat dihalau jika kita dapat mencetak petani-petani baru berkualitas yang siap menghadapi tantangan global. seperti beberapa petani dibawaj ini yang bisa mewujudkan mimpi mereka menjadi petani yang sukses :

Kisah Inspirasi dari para Petani

 

  • Akhmad Tamaruddin (62 tahun)

lelaki yang biasa dipanggil Taman ini berasal dari Ngawi, Jawa timur. Ia yang pertama tiba di Palangkaraya tahun 1980 sebagai transmigran. Ia berusaha bercocok tanam dengan lahan yang bergambut di Kalimantan. Satu prinsip yang paling luar biasa dari Taman, bahwa ia tidak membuka lahan dengan cara membakar lahan.

Taman sempat hampir menyerah dan berniat untuk pulang ke Jawa. Ia beralih bekerja serabutan sebagai kuli bangunan. Niat awal upah hasil kerjanya ia kumpulkan untuk ongkos pulang ke Jawa. Meski tanpa pendidikan tinggi, ia mempelajari teknik bertani dari pengalaman empiris, sifat tanah, tipologi, mineralnya, dan lain sebagainya.

Taman mulai membeli tanah subur dua truk dengan harga satu truk Rp 750 ribu, dan membeli 20 sak kapur, masing-masing sak berisi 25 Kg seharga Rp 50 ribu. Biaya lain yang diperlukan adalah untuk membeli pupuk yang disesuaikan kebutuhan. Ia pernah menjadi mentor untuk menerapkan pembukaan lahan tanpa bakar di hadapan utusan masyarakat se-Kalteng, beberapa akademisi, mahasiswa, Manggala Agni, Kepolisan dan lainnya juga banyak yang berdiskusi dengannya. Bahkan pernah ada utusan dari negara se-Asean yang belajar padanya.

Kisah Inspirasi dari para Petani

 

  • Suryono (40 tahun)

Suryono awalnya petani kelapa sawit yang kemudian berubah haluan menjadi petani hortikultura di lahan miliknya seluas lahan 2 hektar (ha). Dengan menjadi petani sawit perbulan ia hanya mendapat keuntungan sekitar 3 juta perbulan. Namun kemudian ia beralih ke tanaman hortikultura karena merasa menjadi petani Hortikultura akan menguntungkan.

Suryono akhirnya menumbangkan tanaman sawit dan menggantinya dengan lahan pertanian hortikultura. Jenis varietas tanaman hortikultura yang ia tanam meliputi oleikultura yakni sayuran bayam kacang panjang, terong, timun, cabai, dan frutikultura seperti buah pepaya, melon, dan masih banyak lagi.

Kini Suryono bisa mendapatkan penghasilan Rp 25 juta per bulan hanya dengan bercocok tanam sayuran. Dari nilai rupiah tersebut, ia mengeluarkan Rp 9 juta untuk bayar pekerja, Rp 5 juta beli pupuk, sisanya adalah keuntungan.

Suryono juga dikabarkan mewakili para petani yang mendukung konservasi lingkungan hutan. Kiranya kita membutuhkan teladan dari para petani seperti ini. Sosok-sosok pekerja keras yang berdedikasi tinggi, serta tidak mengharap hasil instan semata.